Kamis, 01 Oktober 2009

Mengenal pagelaran tayub dan sekilas sejarahnya



IRAMA musik mengalun dengan suara merdu. Suara gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat seorang penari Tayub yang bergoyang tanpa lelah. Tampak mimiknya yang ekspresif dengan geraknya yang gemulai, mereka berjoget mengikuti irama tembang-tembang Jawa populer. Kadang tampil sedikit atraktif, yang sangat menggoda perhatian para tamu. Kesenian ini memang sangat elok untuk ditonton. Seakan mata tak lelah tertuju pada para penari. Begitulah sedikit gambaran situasi dalam pagelaran tayub.

Salah satu suguhan musik etnik yang kami angkat dalam siaran di radio komunitas Kidoeng Rakyat adalah musik gamelan yang di representasikan dalam kesenian tayub. Tayub begitu popular terutama di daerah pedesaan di jawa, dimana masyarakatnya masih sarat dan kental dengan tradisi leluhurnya.

Sebagaimana daerah lain yang masih teguh memegang tradisi leluhur, keberadaan tayub dalam khasanah kebudayaan masyarakat pedesaan di Lamongan juga masih eksis, meski secara kwantitas pertunjukkan dan kelompok-kelompok seniman yang berkiprah didalamnya mulai menurun seiring dengan perkembangan zaman.

Pergeseran ini tidak terlepas dari penilaian minor terhadap pelaku dan penikmat kesenian tayub yang cenderung di katakan ‘saru’ dan dikesankan ‘jauh’ dari norma keagamaan, dan puncaknya terjadi pada era 65an. Pada dekade 80-an hingga 90-an , tayub kembali menjadi perhatian dalam komunitas masyarakat Jawa. Tayub yang dulunya disebut sebut sebagai “seni pinggiran”, dan “kampungan” perlahan namun pasti, kembali menarik hati masyarakat jawa. Tayub disebut “kampungan”, karena pergelaran tayub biasanya ditampilkan di kampung-kampung yang jauh dari suasana tata cara keraton. Yang biasanya, menunjuk perilaku yang tidak sopan, saru, kasar, erotic, dan urakan.

Wajah Pergelaran Musik Tayub.

Tayub adalah salah satu seni pertunjukan rakyat Jawa yang berujud tari berpasangan antara Ronggeng dan Pengibing. Acara tayuban biasanya diawali dengan penari wanita. Gendhing yang dialunkan pesinden acapkali terasa kuno. , biasanya yang digunakan adalah lagu-lagu langgam campursari dan dangdut.

Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Kesenian ini berupa pertunjukan yang berbentuk tari berpasangan antara tledhek atau joged dengan penari lelaki sebagai penayub. Penari Tayub biasanya mengawali pentas dengan membawakan Tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lemah lembut. Setelah itu, mereka menarikan irama-irama yang sedikit rancak. Yang unik dari tarian ini adalah ikut sertanya para penonton atau tamu untuk menari bersama dengan penari Tayub. Tamu yang dipandang terhormat biasanya akan didaulat ikut menari dengan ditandai dikalungkannya sebuah sampur.

Hingga saat ini, Tayub masih digunakan di beberapa daerah baik di Jateng, maupun di daerah DIY Yogyakarta.Sedang untuk didaerah Jateng, biasanya yang masih membudidayakan Tayub yakni di daerah Sragen, Grobongan, Purwodadi, Blora, Pati, Jepara, dan Wonogiri.

Bukan hanya di jawa tengah, di jawa timur keberadaan tayub juga masih bisa kita saksikan di banyak daerah seperti Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Nganjuk, Jombang, Malang, Blitar dan sekitarnya.

Fungsi pagelaran Tayub menurut apa yang dilakukan oleh leluhur kita dulunya adalah sebagai berikut;.

1. Upacara Pubertas
2. Upacara Inisiasi
3.Percintaan
4.Persahabatan
5. Upacara Kematian
6.Upacara Kesuburan
7.Upacara Perburuan
8.Upacara Perkawinan
9. Pekerjaan
10.Perang
11.Lawakan
12.Perbincangan
13.Tontonan
14.Pengobatan

Tayub dulunya bersifat sacral, dan profan/ yang religious.

Pergeseran Tayub.

Tayub kini telah berubah fungsinya dari yang bersifat sacral-religius,ke profan-sekuler.Kini pergelaran Tayub lebih sebagai seni hiburan, tari pergelaran, dan tontonan.

Sejarah Kesenian Tayub

Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Mojopait. Pada Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub jarang dipentaskan. Pada waktu Jaman Kerajaan Demak, kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh dari pusat kota kerajaan.

Seiring berjalannya waktu, sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram, kesenian ini mulai digali kembali. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. Namun disayangkan, penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C, Cium, Ciu dan Colek.

Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV, beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan di masyarakat. Selanjutnya kesenian tayub mengalami perkembangan di daerah Sragen, Wonogiri dan Purwodadi. Di daerah Sragen sendiri, kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar, Gesi, Sukodono, Mondokan dan Ngrampal.

Citra kesenian tayub pada waktu itu, diperburuk ulah para penari pria atau penonton. Dulu, para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain penutup dada. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Tetapi, di era sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi.

Menepis Kesan Miring

Kesan miring para penari tayub, dahulu memang sangat terasa. Namun seiring dengan perkembangan jaman, kebiasaan yang tinggalan penjajah tersebut kian lama kian menipis. Pakaian yang dikenakan para penari pun seiring perjalanan waktu, juga mengalami pergeseran. Kalau dulu pakaian yang dikenakan penari, biasanya hanya mengenakan kemben sebatas dada. Saat ini tampak lebih sopan.

Pakaian yang dikenakan tidak ubahnya seperti pakaian wanita adat Jawa kebanyakan. Tak Kian Redup Meski berkembang dalam lingkungan musik modern, popularitas Tayub tidak kian redup. Kesenian ini masih banyak dijumpai pada acara-acara hajatan di beberapa desa di wilayah Kabupaten Lamongan. Tantangan yang kini dihadapi tidak ringan. Perkembangan musik-musik modern dikawatirkan akan dapat menenggelamkankan kesenian Tayub, bila tidak diuri-uri sedini mungkin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar